Home education tidak melulu tentang akademis, namun juga nilai-nilai pengembangan karakter positif, maka penggunaan Linux ini tidak hanya mendorong anak jadi pandai secara kognitif, tapi juga mampu memberi penghargaan terhadap kekayaan intelektual dengan tidak memakai software bajakan
Kali ini Kluwek diberi kesempatan mewawancarai Maria Magdalena, seorang Ibu yang luar biasa yang dikenal sebagai aktivis homeschooling. Di tengah kesibukkannya, beliau juga masih berkutat dengan kegiatan memasak dan Linux tentunya
. Berikut petikan wawancara dengan beliau :
Sejak kapan Mbak Maria mengenal Linux ? Bagaimana awalnya ?
Indesign. Cuma software ini yang membuatku masih berkutat dengan Windows, ini pun karena klienku, sebuah perusahaan besar yang bisa membeli software aslinya, mengaku kesulitan jika harus berubah haluan menjadi Scribus, karena perusahaan tersebut memiliki tenaga outsourcing yang sangat banyak dan semua sudah mendapat training Indesign. Padahal dalam prakteknya, berubah haluan ini sama sekali tidak sulit.
Mengapa memilih Linux ?
Sejak tahun 2005, aku telah pindah ke lain hati, berubah aliran menjadi Linux Mania (cihuyy… sejenis dengan Deltras Mania kali ya… ). Yang ngenalin suamiku, yang waktu itu adalah ketua KPLI di Sidoarjo – sekarang sudah menyerahkan tahta pada temannya, tapi sejak itu aku jadi enggan menyentuh Windows, bayangkan saja… sudah 2 tahun (iii… lamanya) aku pakai Mandriva dan masih malas update tapi… gak pernah ku temukan satupun virus, atau kerusakan Mandriva hingga harus di-install ulang. Ini membuat pekerjaanku jadi lancar, tidak mengalami gangguan karena komputer.
Sehari-hari, mbak mengunakan linux untuk apa saja ?
Karena Linux telah jadi teman sehari-hari, maka pekerjaan sehari-hariku juga menggunakan Linux. Seperti memutar film atau lagu, mendesain, mengedit gambar, menulis jurnal, mengedit website, menulis laporan keuangan, membaca resep masakan, membuat proposal, membuat worksheet, membuat naskah, organizing waktu, bahkan belajar bersana anakku yang home education. Ya, Linux memang telah kupakai setiap hari.
Banyak orang ragu ketika ingin mulai menggunakan Linux. Mereka merasa Linux itu asing dan sulit digunakan. Tapi ketika mereka melihat Mandriva, mereka sedikit merasa familiar. Di titik ini keberanian mencoba sudah ada, nah ketika mulai mencoba… hmm… mereka langsung suka, karena sudah gak ada kesusahan karena virus atau keharusan install ulang tiap beberapa waktu.
Bagaimana pandangan Mbak tentang Linux dan wanita ?
Perempuan, dengan dinamika hidupnya, apalagi pengguna komputer yang selalu online seperti aku, adalah lebih baik jika memakai Linux, salah satu alasannya adalah agar tidak disulitkan oleh virus. Selain itu, pemakaian Linux atau OSS yang sudah pasti legal akan menjadi contoh tersendiri bagi anak-anak tentang perlunya penghargaan atas hak intelektual seseorang. Jika kita membiasakan anak memakai produk bajakan, maka itu berarti kita telah mengajarkan pada anak bahwa membajak itu tidak apa-apa. Ini salah besar. Sebagai ibu, pendidik utama bagi anak-anak, perempuan wajib memberi contoh tentang kebenaran dan kebaikan. Memakai Linux atau OSS dalam kehidupan sehari-hari adalah salah satu teladan itu.
Bagaimana cara memperkenalkan Linux atau OSS kepada anak ? Bisakah
homeschooling dibantu dengan Linux ?
Sejak pertama kali menyentuh komputer, pada waktu itu usia 2 tahun, anakku sudah menggunakan Linux. Yaaa… komputer bagi anak balita kan sebuah permainan. Jadi yang pasti dia pakai adalah yang berbentuk permainan atau games. Di usia tersebut, ketika harus belajar menggunakan mouse, keyboard, berhitung, atau kegiatan kognitif lain, Pandu berkenalan dengan GCompris. Setelah itu, ketika sudah lancar motoriknya dan semakin pandai kognitifnya, semakin banyak aplikasi yang dia pakai termasuk KDE Games, di usia 5 tahun dia senang-senangnya bermain dan membuat games dengan KGoldRunner.
Gambar KGoldRunner (diambil dari situs KDE)Inilah proses home education yang pertama kali Pandu jalani. Melalui software-software games Linux ini Pandu bermain sambil belajar. Dari sini dia juga jadi terbiasa dengan Linux. Sehingga setiap kegiatan belajarnya sampai saat ini ya terutama memakai Linux. Karena home education tidak melulu tentang akademis, namun juga nilai-nilai pengembangan karakter positif, maka penggunaan Linux ini tidak hanya mendorong anak jadi pandai secara kognitif, tapi juga mampu memberi penghargaan terhadap kekayaan intelektual dengan tidak memakai software bajakan.
Foto Pandu mengerjakan ujian Matematika
(diambil dari pandu.punyaweb.co.cc)Selain itu, anak jadi belajar juga bahwa pendidikan atau pengembangannya seharusnya tidak “money oriented”, aku sebagai aktivis home education, amat sangat menekankan prinsip “pendidikan untuk semua”, bukan “pendidikan hanya untuk yang ber-uang”. Sehingga dengan OSS atau Linux, aku dan keluargaku bisa banyak berbagi, melalui software-software education games yang kubagikan gratis bagi teman-teman dan siapa saja yang membutuhkan. Bayangkan kalau aku menggandakan software education games lain yang tidak open source… pasti aku sudah dicap sebagai pembajak.
Nah, dari ceritaku ini, Linux atau OSS dalam home education tidak hanya sebagai alat bantu belajar kognitif, tapi juga sebagai alat untuk belajar karakter kepribadian yang positif. Dan ini adalah pembelajaran yang sangat penting sebagai modal kepribadian yang sangat diperlukan anak untuk menjalani kehidupannya.
Maju terus Linux dan pengembangannya!
Tentang Maria Magdalena
Maria Magdalena. Perempuan yang dilahirkan pada tanggal 25 Mei 1975 ini menggeluti home education untuk putranya sendiri sejak Januari 2007 (dokumentasi proses home education bisa dilihat di: http://pandu.punyaweb.co.cc ), dan terjun ke masyarakat untuk home education sejak November 2007, ketika dia dan teman-temannya mendirikan Klub Sinau, sebuah support group untuk praktisi home education/homeschooling di Sidoarjo pada khususnya (melalui kegiatan temu muka) dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Di dalam Klub Sinau Maria bertindak sebagai konsultan dan pembicara home education, selain sebagai pengelola website tersebut di atas. Maria juga menyebut diri sebagai “satpam” (moderator) mailing list Klub Sinau dan Sekolahrumah yang sudah beranggota lebih dari 2000 orang. Bersama teman-temannya, para orang tua praktisi home education, Maria Magdalena menggagas terbentuknya ASPIRASI, Asosiasi Praktisi Pendidikan Rumah Seluruh Indonesia pada Juni 2009, yang menjadi wadah bagi keluarga yang mendidik anaknya di jalur informal. Asosiasi ini bertaraf nasional, dan mengkhususkan diri untuk keluarga pendidikan rumah. Maria Magdalena juga telah menulis dua buku, yaitu:- Anakku Tidak (Mau) Sekolah – terbitan Gramedia Pustaka Utama
- Warna Warni Homeschooling – terbitan Elex Media Computindo (bersama teman-temannya di milis Sekolahrumah)






great mama, mudah2an akan banyak yang seperti ini
maju terus linuxer wanita indonesia…
Sangat langka, wanita yang suka Linux… di Indonesia
ayo tinggalkan bajakan
makin pingin nyoba linux nih
Untuk lebih memasyarakatkan linux sbg bagian dari opensource, ijinkan saya mempromosikan kaos2 bertema opensource di http://www.open-tshirt.co.cc
geek mommy? O_O